Mencoba lepas dari kepalsuan dengan Transvaluasi Nilai
Orang yang kalah seringkali tidak bisa menerima kekalahannya, untuk itu mereka menciptakan narasi palsu untuk membentuk paradigma bahwa kalah adalah hal yang biasa, membuat sistem moralitas yang melanggengkan kekalahan itu sendiri. Sehingga disebut Nietzsche dalam konsep filsafat eksistensialismenya tentang nihilisme aktif akan transvaluasi nilai.
Transvaluasi nilai adalah penjungkirbalikan nilai atau membaca dari sisi kebalikan yang kita ketahui. Biasa diciptakan oleh pihak yang kalah sebagai bentuk balas dendam imajiner semata. Atau dengan kata lain, sebagai pemenuhan hasrat manusia akan kemenangan dengan tujuan untuk menghindari rasa sakit akan pahitnya kekalahan.
Nietzsche membagi moralitas ini menjadi dua, yaitu Moralitas Herdenmoral (Moralitas Tuan) dan Moralitas Herrenmoral (Moralitas Budak). Moralitas Tuan adalah mentalitas superior yg berdaulat akan dirinya sendiri, menjadi orang yang memerintah, bukan diperintah, dan memiliki pandangan yang revolusioner. Inilah yang coba berkali-kali Nietzchen tegaskan, jadilah superhero jangan jadi orang biasa, jangan hanya berujuang pada nihilisme pasif, tapi isilah nihilisme pasif itu dengan pemikiranmu dan ubahlah menjadi nihilisme aktif. Orang yang memiliki moralitas tuan pasti tak tahan untuk berlama-lama jatuh dalam keterpurukan dan tekanan, pasti selalu ingin berusaha untuk cepat-cepat keluar dari keterpurukan. Sebaliknya, orang yang memiliki moralitas budak ini justru tahan untuk berlama-lama hidup dalam keterpurukan.
Moralitas budak adalah mentalitas inferior seperti sabar, penurut, rendah hati, dan menunggu perintah. Sebenarnya moralitas ini muncul dari reaksi akan ketakutan terhadap moralitas tuan. Ketika seseorang sudah tidak bisa melampaui batasan dirinya atau malas untuk berubah, disitulah muncul kata menyerah. Orang yang menyerah ini lalu tidak ingin merubah dirinya menjadi lebih baik lagi, hingga akhirnya malah berupaya untuk membalik tatanan nilai namun tidak dalam realita, hanya sebatas narasi palsu yang melanggengkan kekalahan itu. Yang sebelumnya rendah menjadi tinggi, yang sebelumnya tinggi menjadi rendah, yang dari kalah menjadi mengalah. Gampangannya hanya sebatas omong kosong tanpa usaha.
Secara tidak sadar, statement ilusi ini sering kita kemukakan dalam kehidupan sosial kita sehari-hari. Contoh, "Gak apa-apa kita kalah, yang penting damai", "Gak apa-apa dapet nilai jelek, toh diakhirat juga gak ditanyain nilai ulangan", "Biarin aja, kesenangan dunia hanya sementara, di surga nanti kita akan mendapatkan kesenangan abadi". Narasi palsu yang membelokkan realitas ini muncul dari ketidakmampuan kita untuk merubah situasi. Menjadi semacam obat bius bagi pikiran seseorang.
Di era keemasan Islam sendiri, apakah tokoh-tokoh filsuf, ilmuwan, dan intelektual muslim hebat seperti Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Jallaludin Rumi, Ibnu Sina, dkk, terlalu terpacu pada dunia sehingga melupakan akhirat? Tentu saja tidak. Hidup ini juga perlu diperjuangkan, bukan ditinggalkan. Untuk apa kita hidup kalau kita tidak mau memperjuangkannya. Perjuangan dan sumbangsih mereka sangatlah luar biasa bagi kemajuan peradaban. Disaat bangsa Eropa terlalu tunduk pada ajaran kitab dan dogmatisasi gereja, banyak dikalangan pendeta gereja yang menjual ayat untuk dijadikan alat memerintah dan pengukuh kekuasaan. Sampai Islam tumbuh hingga mencapai era keemasannya, memberikan cahaya akan terangnya ilmu pengetahuan ditengah masa kegelapan Eropa, hingga akhirnya mereka bisa terbebas dari masa-masa kelam itu. Hal seperti ini yang harusnya kita contoh, namun kenapa dimasa kini kita justru berbanding terbalik? Orang yang memiliki pemikiran berbeda dicap kafir, orang yang belajar filsafat dibilang atheis, ulama yang seharusnya mengajarkan kebaikan justru malah masuk kedalam liciknya dunia perpolitikan, hingga ayat-ayat juga dijadikan alat politisasi. Apa bedanya, masa sekarang dengan masa kegelapan Eropa.
Selama 350 tahun bangsa Indonesia hidup dalam kolonialisasi Belanda, kita menjadi terlena berlama-lama hidup dalam sengsara, sampai-sampai mentalitas budak mengakar kuat pada diri kita hingga sekarang. Bayangkan apabila tidak ada segelintir orang yang memiliki mentalitas tuan pada masa itu, pasti tidak akan ada para tokoh bangsa yang berpikir untuk merdeka. Tokoh sepeti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, dll, mereka adalah orang yang tak tahan berlama-lama hidup dalam kesengsaraan, mentalitas tuan menghantarkan mereka pada pandangan revolusioner akan kebebasan. Meskipun hanya segelintir orang, tetapi pemikiran mereka bisa merubah nasib seluruh masyarakat Indonesia yang bermentalitas budak. Dari sini kita bisa belajar, kerapkali kita berpikir bahwa kita tidak memiliki daya untuk merubah keadaan, tetapi anggapan itu salah, justru perubahan itu terletak pada diri kita masing-masing untuk bangun dan merubah keadaan.


Belum ada Komentar untuk "Mencoba lepas dari kepalsuan dengan Transvaluasi Nilai "
Posting Komentar